25
Jul
2:02pm

Menjadi rasa ke-sendiri-an

Sendiri, bukan berarti tidak memiliki teman ataupun kerabat yang dapat diajak untuk berjalan bersama.

Sendiri, bukan berarti sedang galau memikirkan sesuatu hal yang sifatnya tidak esensial.

Sendiri, bukan berarti bingung menentukan arah.

Sendiri—sebuah kata yang sudah menjadi bagian dari setiap potong episode kehidupan (sebagian) manusia. Bagi mereka, sendiri memiliki daya tarik tersendiri.

Kamu tahu? Dari dulu sampai sekarang, ada orang yang selalu lekat dengan kata ‘sendiri’. Sini, aku ceritakan sedikit tentang kisah kesendiriannya.

Orang ini memiliki nama yang entah menurutku terlalu abstrak untuk disebutkan. Ia memiliki sebuah kebiasaan yang mungkin aneh jika dilihat oleh orang-orang sekitar. Ia amat-sangat-begitu men-spesial-kan kata ‘sendiri’ pada pikiran, hati, juga hidupnya.

Dengan sendiri, ia mampu mengekspresikan ke-amburadul-an isi otaknya.

Dengan sendiri, ia mampu berkomunikasi dengan alam.

Saat sedang sendiri, ada sesuatu di dalam dirinya yang mampu menghidupkan jiwanya.

Iya, ia hidup dengan kata ‘sendiri’.

Mungkin ini yang membuat ia berbeda dengan yang lain.

Ketika berada di sebuah perkumpulan manusia, ia lebih senang menerka apa yang mereka lakukan. Ada yang aktif, ada juga yang pasif. Ada yang ingin menjadi sumber perhatian, ada juga yang diam saja. Ada yang bersemangat, ada juga yang galau. Entah, bumi ini isinya apa saja. Kita diciptakan di atas tanah yang sama. Kita diciptakan dengan bentuk yang berbeda-beda namun tetap berfokus pada tujuan yang sama. Pernah sempat berpikiran tidak, untuk apa kita hidup? Apa tujuan kita diciptakan di atas bumi? Apa tujuan kita diciptakan sebagai kaum sosialis? Apa yang membedakan ia, aku, kamu, dan mereka?

Sendiri, bukan berarti menjadikan ia sebagai kaum anti-sosialis. Ia juga aktif berkegiatan di sana dan di sini, tanpa ada orang yang tahu secara detail apa saja kegiatannya.

Tidak ada salahnya sendiri, selagi ke-sendiri-an itu memiliki dampak positif bagi diri sendiri, dan juga lingkungan sekitar.

Hey, kamu yang sedang membaca tulisan ini… selamat menjadi rasa ke-sendiri-an. :)

Bogor, 19 Juli 2014.

Naafi Fatimah Harwanti




24
Jul
10:13pm

Ketika Sahabatmu Menikah →

nengsifat:

Ini cerita tentang sahabatmu yang akan menikah, kamu pasti punya sahabat dalam hidup kamu, selalu berbagi cerita dan tak ada rahasia bahkan tentang seorang pria yang menjadi belahan jiwanya.

Sahabatmu akan menikah beberapa bulan lagi. Di satu sisi kamu bahagia sekali akhirnya dia…

Aduh ini.

Padahal baru saja mau menginjak kuliah tingkat dua, tapi banyak sahabat saya yang sudah punya calon. Nid. Nap. Dew. Shyn. Riz. Siapa lagi ya, lupa… hahaha. Terus, ada juga yang sudah nikah.

Nggak kerasa ya, kita (mungkin) udah dewasa. Obrolannya bukan lagi tentang putih abu-abu. Ah. Apalagi kalian, nanina. Nggak kerasa banget. Empat tahun kita bersama. Empat tahun juga kita udah saling tahu luar dan dalam dari setiap diri kita masing-masing. Waktu… terasa cepat sekali bergulir ya. :’)


12 notes
originally nengsifat

24
Jul
3:20pm

Bersabarlah Dalam Proses

Kenapa dulu gue nggak ngelakuin apa yang dia mulai lakuin dulu. Gue udah kalah start. Gue udah telat. Gue udah telat… Dia udah jadi seseorang. Lah, gue?

Harus saya akui, hampir setiap teman-teman yang saya kenal (termasuk saya), pernah melontarkan pernyataan tersebut. Kebanyakan dari kita tidak sabar dalam menjalani proses, dan menilai orang dari ‘siapa dia sekarang’—bukan dari jerih payahnya.

Kamu yang sekarang memang bukan siapa-siapa. Tetapi, tiga atau lima tahun lagi? Siapa yang tahu? Siapa tahu kamu nanti akan menjadi pemimpin yang berwibawa, orang tua yang bertanggung jawab, pengusaha sukses, penulis terkenal, traveller sejati, atau bahkan menjadi Presiden. Siapa yang tahu? Kita hanya bisa memilih. Kita hanya bisa memutuskan. Kita hanya bisa menunggu. Siapa yang tahu? Hanya Tuhan yang tahu.

Mari kita ubah pola pikir kita. Lakukan sekarang, atau tidak sama sekali.

Lakukan perubahan itu sekarang, atau tidak sama sekali.

Lakukan secara konsisten, atau tidak sama sekali.

Lakukan dengan hati, atau tidak sama sekali.

Masih muda, nggak usah banyak mikir, nggak usah banyak bingung. Mau mulai, ya mulai saja. Nikmati setiap prosesnya. Bersabarlah. :)

Bandung, 24 Juli 2014.

Naafi Fatimah Harwanti




23
Jul
3:17pm
Sesuatu yang lama pasti akan tergantikan oleh sesuatu yang baru. 

Karena yang lama akan berkarat, dan yang baru akan tumbuh dengan sadis mendesak di atas yang berkarat—menebarkan oksigen.


-naafifathar></div>

















<div id=

Sesuatu yang lama pasti akan tergantikan oleh sesuatu yang baru. 

Karena yang lama akan berkarat, dan yang baru akan tumbuh dengan sadis mendesak di atas yang berkarat—menebarkan oksigen.

-naafifathar



22
Jul
12:02pm

Membuat Nyaman Orang Lain

Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk sosialis, yang berarti setiap pribadi dari kita tidak dapat hidup di muka bumi ini sendirian.

Mau se-individualismenya kamu, tetap saja… kamu tidak dapat hidup sendiri. Hidup ini tidak akan berarti jika kamu terlalu serius mengejar mimpi kamu, tanpa memperhatikan lingkungan sekitar. Hey, kamu hidup bukan untuk diri sendiri, tetapi juga orang lain. Ingat, orang lain.

Ya ya ya, kita pasti memiliki cara masing-masing untuk memperhatikan lingkungan sekitar. Salah satunya ialah rasa nyaman.

Iya, saya memiliki cara tersendiri untuk membuat orang lain nyaman dengan saya. 

Perbedaan.

Saya menjadikan unsur perbedaan sebagai landasan saya untuk membuat nyaman orang lain. Bukankah hidup ini indah karena adanya perbedaan? :)

Setiap saya bertemu dengan orang-orang baru, saya selalu mencari celah yang ia punya untuk ditambal dengan apa yang saya punya. Kamu tahu? Itu bukan cara yang mudah. Semakin berbeda diri kamu dengan orang lain, semakin sulit juga kamu mencocokkan apa yang kamu punya dengan apa yang ia punya. Sudah hukum alam.

Sampai ada salah seorang teman saya yang berkata, “Aku seneng deh Naaf, punya temen kayak kamu. Mau diajak susah ataupun seneng.

…..

Pikiran saya menjadi hening seketika.

Membuat nyaman orang lain itu sungguh merupakan sebuah kebahagiaan yang sederhana.

Walaupun saya memiliki banyak kelemahan dan keterbatasan, tetapi saya tetap menjadikan sedikit kelebihan yang saya punya untuk melengkapi kepingan hidup orang lain. 

Ingat, kamu tidak hidup sendiri. Carilah lubang kunci yang orang-orang punya, dan cocokkanlah dengan kunci yang kamu punya. Bila cocok, bukalah pintu yang sudah semestinya dibuka. Dan bila tidak cocok, tenang… masih banyak lubang kunci yang menantimu. Tuhan Maha Mengetahui apa yang tidak hamba-Nya ketahui.

Bandung, 22 Juli 2014.

Naafi Fatimah Harwanti



20
Jul
7:03am

Kalau Boleh Aku Memilih →

satriareguntara:

kalau boleh aku memilih,

aku memilih diam, saat itu dan kini

hingga tak ada satupun pekikan kekecewaan karenaku

hingga tak ada satupun hati yang tersakiti olehku

hingga tak ada satupun harap padaku, yang akhirnya tak bisa aku penuhi

kalau boleh aku memilih,

aku memilih jadi penonton, tak…

Kalau boleh aku memilih, aku akan memilih.

Berbeda dengan kamu. 
Aku selalu menjadi penonton di panggung ini. 
Bukan menjadi pemeran utama, atau bahkan figuran. 
Aku hanya bisa menikmati.

Menikmati setiap peran yang dimainkan di atas panggung ini. 
Walaupun hanya berupa jeda ataupun hembusan, aku nikmati itu.

Karena hanya di posisi penonton lah, aku bisa bebas… 
meluapkan setitik jenis tinta, tanpa ada yang mengetahui; 
memandang sebuah rasa, tanpa ada yang membatasi; 
dan menerjemahkan kode, tanpa ada yang mengarahkan.

Aku hanya bisa memberikan isyarat, sehalus udara berhembus. 
Isyarat bahwa aku… ingin mencoba memilih.

Hey, kamu. Aku ingin bertanya, 
Seburuk itukah peran kamu di atas panggung ini?”.

Kalau boleh aku (mencoba) memilih, aku akan memilih.

Bogor, 25 Mei 2014.



18
Jul
2:54pm
Ternyata… sudut pandang gampang berubah tuh bukan karena kitanya yang labil, tapi emang sifatnya yang relatif.

naafifathar

Ini tentang mindset.


5 notes
originally naafifathar

17
Jul
11:23am

Untuk kamu yang pulang kampung, selamat ya! Ingat, pulang kampung harus selamat. :D



09
Jul
12:36pm
Ingatkah kamu akan gambar ini?
Tahu tidak? Aku masih teringat jelas akan gambar ini, tentang masa-masa itu&#8230; 
masa ketika perbincangan &#8216;topeng&#8217; sedang hangat-hangatnya,
masa ketika penggunaan &#8216;topeng&#8217; sudah menjadi hal yang lumrah,
dan masa ketika kita sudah tahu manusia mana yang menggunakan topeng palsu, dan manusia mana yang menggunakan topeng asli.
Apakah kamu masih mengingatnya? Tak apa jika kamu lupa, tapi&#8230; asal kamu tahu. Aku ingin sedikit bernostalgia dengan topeng-topeng itu. Ada kalanya bernostalgia itu perlu untuk dilakukan. Bukan untuk membuang-buang waktu memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak harus dipikirkan, tetapi untuk introspeksi diri.
Aku jadi ingat&#8230; dulu aku pernah menjadi pemain topeng yang handal. Saat di situasi A, aku menggunakan topeng A; di situasi B, aku menggunakan topeng B; dan saat di situasi C, aku menggunakan topeng C. Situasi yang tepat, dengan topeng yang tepat pula.
Sampai tiba pada titik puncak keahlianku, aku rasa&#8230; titik jenuhku pun ikut memuncak. Aku lelah harus bergonta-ganti topeng di setiap kondisi. Mungkin kamu juga merasakan hal yang sama denganku. Tidak perlu berpura-pura, aku tahu kok. :)
Di titik puncak kejenuhan itulah, aku mulai membuang satu per satu segala jenis topeng yang aku punya. Untuk membuang topeng-topeng tersebut tidak semudah seperti yang kamu kira. Aku perlu membeli tiket pesawat untuk terbang menuju negeri antah berantah dan menguburkan topeng-topeng tersebut sedalam yang aku bisa. Aku tidak ingin manusia lain merasakan kejadian yang sama denganku. Apakah kamu juga melakukan hal yang sama denganku?
Sekarang, aku sudah tidak peduli dengan nasib topeng-topeng itu. Biarkan alam yang menelannya. 
Hei, kamu yang sekarang entah sedang melakukan hal apa.
Aku tahu apa yang kamu rasakan. Yang aku bisa bantu hanyalah&#8230; ini. Usahakan untuk tidak (lagi) menggunakan topeng-topeng yang kamu punya. Aku takut topeng-topeng itu nanti menelanmu mentah-mentah. Aku hanya tidak ingin&#8230; kamu merasakan hal yang sama dengan yang aku rasakan. Hati-hati ya di sana. Alam sedang mengawasimu.



Bandung, 9 Juli 2014.
Naafi Fatimah Harwanti></div>

















<div id=

Ingatkah kamu akan gambar ini?

Tahu tidak? Aku masih teringat jelas akan gambar ini, tentang masa-masa itu… 

masa ketika perbincangan ‘topeng’ sedang hangat-hangatnya,

masa ketika penggunaan ‘topeng’ sudah menjadi hal yang lumrah,

dan masa ketika kita sudah tahu manusia mana yang menggunakan topeng palsu, dan manusia mana yang menggunakan topeng asli.

Apakah kamu masih mengingatnya? Tak apa jika kamu lupa, tapi… asal kamu tahu. Aku ingin sedikit bernostalgia dengan topeng-topeng itu. Ada kalanya bernostalgia itu perlu untuk dilakukan. Bukan untuk membuang-buang waktu memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak harus dipikirkan, tetapi untuk introspeksi diri.

Aku jadi ingat… dulu aku pernah menjadi pemain topeng yang handal. Saat di situasi A, aku menggunakan topeng A; di situasi B, aku menggunakan topeng B; dan saat di situasi C, aku menggunakan topeng C. Situasi yang tepat, dengan topeng yang tepat pula.

Sampai tiba pada titik puncak keahlianku, aku rasa… titik jenuhku pun ikut memuncak. Aku lelah harus bergonta-ganti topeng di setiap kondisi. Mungkin kamu juga merasakan hal yang sama denganku. Tidak perlu berpura-pura, aku tahu kok. :)

Di titik puncak kejenuhan itulah, aku mulai membuang satu per satu segala jenis topeng yang aku punya. Untuk membuang topeng-topeng tersebut tidak semudah seperti yang kamu kira. Aku perlu membeli tiket pesawat untuk terbang menuju negeri antah berantah dan menguburkan topeng-topeng tersebut sedalam yang aku bisa. Aku tidak ingin manusia lain merasakan kejadian yang sama denganku. Apakah kamu juga melakukan hal yang sama denganku?

Sekarang, aku sudah tidak peduli dengan nasib topeng-topeng itu. Biarkan alam yang menelannya. 

Hei, kamu yang sekarang entah sedang melakukan hal apa.

Aku tahu apa yang kamu rasakan. Yang aku bisa bantu hanyalah… ini. Usahakan untuk tidak (lagi) menggunakan topeng-topeng yang kamu punya. Aku takut topeng-topeng itu nanti menelanmu mentah-mentah. Aku hanya tidak ingin… kamu merasakan hal yang sama dengan yang aku rasakan. Hati-hati ya di sana. Alam sedang mengawasimu.

Bandung, 9 Juli 2014.

Naafi Fatimah Harwanti



08
Jul
9:56pm

Tahu diri

harusnya aku, tahu diri.

Titik ini, tidak akan bisa menjadi garis.
Abu ini, tidak akan bisa menjadi tanah. 
Hayat ini, tidak akan bisa menjadi raga. 
Urat ini, tidak akan bisa menjadi nadi.

Daun gugur pun tahu,
Iba sekali makhluk jenis homo sapiens ini.
Rimba, bahkan, telah mengeluarkan nadanya, 
inikah rasanya… ikhlas?

Bandung, 2013.

Naafi Fatimah Harwanti