28
Sep
3:49am
Semakin ke sini, aku semakin sepakat bahwa media sosial semakin menjadikan manusia sebagai tembok—benda mati, yang mudah sekali di’rekayasa’ oleh makhluk lain, bukan sebagai manusia dengan definisi makhluk hidup.
— Salah satu hakikat media sosial.



27
Sep
11:07pm

Menjadi lelah

Pikiran semakin kacau. Hati semakin campur aduk. Masalah semakin menumpuk. Waktu semakin terbengkalai.

Entah masalah, rasa, serta tanggung jawab apa yang sedang aku derita sekarang.

Dulu. Di saat sedang ada masalah, sedang bingung memutuskan sesuatu, atau sedang banyak pikiran, ada dua manusia yang setia merelakan waktunya untuk ku. Iya, itu dulu. Sekarang, aku tidak memiliki siapa-siapa, selain-Nya.

Aku merindukanMu.

Aku merindukan kalian.

Aku rindu melakukan hal-hal gila bersama kalian… rindu menceritakan berbagai masalah, rindu memberikan solusi, rindu merajut mimpi, rindu berbagi rasa senang ataupun sedih, rindu melakukan banyak hal-hal baru, rindu dipaksa keluar dari zona nyaman, rindu meminjam novel, rindu belajar bersama, rindu memikirkan hal-hal yang absurd, rindu berbagi kisah, rindu menjadi punggung ataupun kaki, rindu melakukan hal-hal bersama. Hei, aku rindu.

Aku rindu berbagi. Berbagi kisah… masalah… komitmen… cerita… keluh kesah… solusi… perjuangan… aku rindu. Sekarang, hanya Tuhan yang menjadi tempat satu-satunya berbagi cerita. 

Yaa Allah, hamba tidak sanggup menanggung semua ini… sendiri. Berat sekali rasanya.

Titik dua kurung buka.

Bogor, dengan senyap malam.

27 September 2014

Naafi Fatimah Harwanti



27
Sep
12:11am

Pukul 00:10

Satu jam pun berlalu.

Tetap. Tidak ada satu kata pun yang tertulis.

Buntu. Kosong. Rasanya hampa sekali. 

Pernahkah kamu merasakan hal ini?




26
Sep
10:47pm

Kamu selalu saja melihat kelebihan orang lain, selalu membanding-bandingkannya dengan kekurangan kamu.


Ya mau sampai kapanpun juga itu tidak akan ada habisnya, sampai kamu lupa dengan apa yang kamu miliki sekarang. Hati-hati…

Yuk, bersyukur. :)

Kapan aku pernah ngomong kayak gini. :”


12 notes
originally naafifathar

20
Sep
11:10pm

Menjadi tenggelam

image

"Setiap manusia memiliki perannya masing-masing." 

Apakah kamu percaya kalimat tersebut? Aku percaya.

Aku percaya bahwa aku harus menjalankan sebuah peran, di bumi ini.

Jadi…

mulai dari beberapa tahun silam, aku senang sekali menjadi orang yang memiliki kontribusi lebih di bawah permukaan.

Sebuah kontribusi, yang tidak terlihat oleh orang luar.

Sebuah kontribusi, yang sering dianggap tidak penting.

Sebuah kontribusi, yang menjadi tulang rusuk sebuah perjuangan dan pengabdian.

Berbeda dengan mereka yang selalu ingin 'show up' setiap kegiatan berlangsung, aku lebih memilih menjadi orang yang berada di belakang panggung.

Tenggelam.

Aku ingin menjadi orang-orang tenggelam, yang berusaha berenang se-kuat mungkin untuk mencapai permukaan.

Tidak dianggap.

Diremehkan.

Dilihat sebelah mata.

Aku menikmatinya. 

Namun terkadang, aku lupa caranya berenang. Aku lupa caranya bernapas di dalam air. Aku lupa caranya memilih mana laut yang dangkal, dan mana laut yang dalam. Aku lupa caranya mencari seorang perenang yang handal. Aku lupa caranya untuk tidak sendiri.

Tuhan, kepada siapa lagi aku harus meminta pertolongan, selain kepada-Mu?

Bogor, malam hari.

20 September 2014

Naafi Fatimah Harwanti