08
Sep
3:12pm

Menjadi jenuh (untuk sendiri)

Semakin bertambah umur seseorang, semakin beranjak pula tingkat pendidikan dan permasalahan yang ia tempa. 

Kini, ia sudah dewasa. Ia duduk di bangku perkuliahan.

Masih ingatkah kamu tentang kebiasaan yang sering kali ia lakukan sedari dulu? Sendiri. Iya, ia senang sendiri.

Banyak yang bilang, orang yang senang ke mana-mana sendiri termasuk orang-orang introvert. Entahlah, ia tidak terlalu peduli dengan istilah itu. Ia hanya menjadikan kata tersebut menjadi suatu kenikmatan tersendiri baginya.

Sendiri.

Tidak berarti ia tidak memiliki teman. Banyak sekali teman di kampus yang ia miliki. Namun dari sekian banyak teman yang ia punya, ia belum menemukan sosok dengan hasrat yang se-jenis dengan hasrat yang ia miliki. Hobi. Minat. Passion. Kebiasaan. Sifat. Perilaku. Ia belum menemukan satu orang pun manusia di kampus tersebut yang memiliki satu tujuan dengan yang ia punya.

Sampai tiba pada suatu waktu, ia lelah.

Ia mulai menyadari, bangku perkuliahan sangat berbeda dengan bangku persekolahan. Orang-orangnya semakin banyak. Tempatnya semakin luas. Ruang lingkupnya jauh lebih lebar. Berbeda dengan sekolahnya dulu yang kecil dengan orang-orang yang tidak sebanyak sekarang.

Sekarang, sendiri menjadi sesuatu hal yang keberadaannya amat sangat bisa dirasakan.

Ia tiba pada titik jenuh. Jenuh untuk sendiri.

Memang, sendiri merupakan hal yang paling menarik untuknya. Tetapi tidak untuk sekarang.

Sudah banyak kegiatan yang ia ikuti sejak ia menginjak jenjang perkuliahan. Tetapi tetap saja, ia masih belum menemukan orang yang bisa ia lihat ‘sosok dirinya sendiri’ pada orang tersebut. Belum ada.

Keinginannya sungguh sederhana. Ia ingin melakukan sebuah kegiatan nan mulia bersama seorang partner yang dapat ia temui setiap waktu di kampus. 

"Lantas, bagaimana caranya menemukan seorang partner di tengah-tengah ruang yang begitu kompleksitas ini?", ia tiba-tiba berbicara.

"Kamu bertanya kepada orang yang tidak tepat.", jawabku membohonginya. 

Ia mulai menurunkan kedua ujung mulutnya. Murung.

"Apakah kamu tetap tidak menyadarinya? Kamu sudah menemukan jawabannya, tepat di hadapanmu.", ucapku, di dalam hati.

 

Bogor, dengan panas sore.

8 September 2014

Naafi Fatimah Harwanti



06
Sep
9:53pm

Menjadi cermin

Di sebuah pojok ruang keluarga, terdapat sebuah cermin yang ukurannya sepadan dengan ukuran tubuh orang dewasa. Tidak ada sesuatu yang menarik dari cermin ini. Ia tidak memiliki ornamen yang indah ataupun bentuk yang unik. Iya, ia hanya benda biasa.

Letaknya yang strategis menyebabkan ia harus bekerja se-keras mungkin. Apapun wujud makhluk yang berada tepat di hadapannya, ia harus me-refleksi-kannya. Teriakan, tangisan, amarah, rupawan, ketakutan, diam, canda tawa… apapun wujudnya, ia tetap me-refleksi-kannya.

Ia tak pernah mengeluh. Ia tak pernah berteriak. Ia tak pernah menangis. Ia tak pernah memaci hidupnya. Entah, apa yang ada pada hati dan pikirannya. Ia begitu tertutup.

Hei.

Pernahkah kamu membayangkan bagaimana jika kamu hidup sebagai benda yang dipakai jika hanya ada butuhnya saja?

Pernahkah kamu membayangkan bagaimana jika kamu hidup sebagai benda yang mudah pecah dengan tugas yang banyak dianggap remeh oleh lingkungan sekitar?

Pernahkah kamu membayangkan bagaimana jika kamu hidup sebagai cermin, bukan manusia?

Sanggupkah kamu untuk membayangkannya?

  

Bogor, selepas hujan.

6 September 2014

Naafi Fatimah Harwanti




02
Sep
9:39pm

Gara-Gara MPKMB

image

MPKMB (Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru) adalah acara yang dimiliki Institut Pertanian Bogor, dipersembahkan khusus untuk mahasiswa baru yang berhasil lolos melewati berbagai macam seleksi masuk kampus IPB. Puncak acara MPKMB terletak pada hari ke-dua pelaksanaan, yakni simulasi aksi—membela rakyat tani. Ini yang membedakan ospek kampus IPB dengan ospek kampus lain. Jadi mahasiswa baru IPB tidak hanya dijejali materi dari seminar ataupun kuliah umum orang-orang ternama, serta rasa cinta almamater. Tetapi juga rasa cinta pertanian. Karena mau sehebat apapun orang itu, apakah mereka dapat hidup tanpa pangan? 

Selain itu, panitia MPKMB juga (menurut saya) berbeda dengan panitia ospek kampus lain. Kenapa? Karena mereka semua terdiri dari mahasiswa IPB yang mau beranjak perkuliahan ke tingkat dua, dengan bimbingan seorang steering commite yang berasal dari BEM KM. Istilah lainnya: mereka mandiri.

Saya jadi ingat. Dulu, saat H- berapa jam open recruitment Panitia MPKMB 51 akan ditutup, saya masih ragu… daftar nggak ya~. Karena waktu itu, saya ingin sekali berkunjung ke rumah teman saya yang berada di luar Jawa Barat saat liburan UAS. Bimbang. Antara mencari pengalaman baru di kepanitiaan atau di perantauan. Dan…. akhirnya, dengan setengah hati, saya daftar dulu saja. Kalau lolos, alhamdulillah. Kalau nggak lolos, juga alhamdulillah. 

Eh taunya, ada SMS masuk yang menyatakan bahwa saya lolos seleksi berkas. Anehnya, saya lolos di divisi yang sama sekali tidak saya pilih. Entahlah, syukuri saja. Seleksi selanjutnya pun menanti, yakni wawancara. Nah, saat wawancara, saya langsung tanyakan kenapa saya bisa lolos di divisi yang sama sekali tidak saya pilih, dan blablabla proses wawancara pun berlangsung. Saya jawab pertanyaan sang pewawancara semampunya. Namun sepertinya, jawaban saya nggak nyambung dengan pertanyaan yang diberikan. Tapi, yasudahlah. yang penting saya ikut seleksinya. Kalau lolos, alhamdulillah. Kalau nggak lolos juga ya alhamdulillah. Masih ada Plan B kok.

Ternyata jawaban amburadul saya saat wawancara mampu membawa saya menjadi Panitia MPKMB 51 pada divisi yang saya pilih pada pilihan dua. Aneh, kenapa saya bisa lolos ._. Yaaa berarti secara otomatis, saya harus mengugurkan plan B yang sudah saya rencanakan sejak UTS semester 2.

Sejak saya resmi menjadi panitia MPKMB 51, keterbatasan saya pun mulai diasah. Ternyata Allah memiliki rencana yang jauh lebih luar biasa dibandingkan dengan rencana yang dirancang oleh makhluk-Nya.

Gara-gara MPKMB, kemampuan komunikasi saya semakin terasah.

Gara-gara MPKMB, saya pertamakalinya nelpon ikhwan! Kalau bapak-bapak sih pernah, tapi ini… selama 19 tahun, saya belum pernah loh nelpon cowok, walaupun itu keperluan tugas sekalipun. Paling juga SMS. Eh taunya… saya disuruh untuk nelpon Kak Sunarya, Ketua BEM TPB 49. Gimana nggak grogi…. ._. Ohiya saat Hari 1 MPKMB, setelah beliau menjadi moderator, saya beserta teman-teman saya sharing dari A-Z dengan beliau. Dari obrolan ini, ke-pentium-an saya sangat terlihat jelas oleh beliau. Beliau langsung berkata yang intinya begini: “Walaupun begitu, kita butuh loh orang yang kayak gini.”. Whahaha~ Dari ucapan beliau, saya dapat mengambil sebuah pencerahan bahwa setiap manusia memiliki perannya masing-masing walaupun memiliki banyak kelemahan. Iya, setiap dari kita itu istimewa. Setiap dari kita mampu memberikan kebermanfaatan bagi umat lain. Setiap dari kita itu bisa memberikan kontribusi. Iya, setiap dari kita….

Gara-gara MPKMB, saya dapat bertatap muka langsung dengan para pejabat di Indonesia dan orang-orang hebat di IPB.

Gara-gara MPKMB, saya dapat mengenal dan sharing dengan kakak-kakak Menteri BEM KM IPB 2014.

Gara-gara MPKMB, link yang saya miliki semakin bertambah. 

Gara-gara MPKMB, saya dapat menyaksikan secara langsung salah satu mimpi teman saya terwujud, yakni menjadi penari pada acara penyambutan Rektor.

Gara-gara MPKMB, saya semakin bertekad untuk meninggalkan kelamnya masa lalu saya.

Gara-gara MPKMB, saya belajar untuk mengenal berbagai karakter orang.

Gara-gara MPKMB, saya belajar menjadi muslimah. :))

Gara-gara MPKMB, saya belajar arti perjuangan dan pengorbanan.

Gara-gara MPKMB, saya memiliki keluarga baru, khususnya Divisi Humas. Keluarga yang bener-bener berbeda dengan keluarga saya yang lain di kampus. Kalian menerima saya apa adanya, walaupun saya memiliki banyak kelemahan, yang salah satunya ke-pentium-an saya. Hahaha. Yaaa… walaupun saya memiliki banyak keterbatasan, kalian tetap percaya bahwa saya bisa. Kalian percaya saya dapat mengerjakan tanggung jawab yang diberikan. Kalian percaya…. :””

Entahlah berapa banyak kalimat ‘Gara-gara MPKMB’ lagi yang harus saya keluarkan. Tetapi yang pasti, mulai dari sini langkahku mulai berubah.

Dan untuk kalian, teman-teman yang sudah saya anggap sebagai keluarga saya—Humas MPKMB 51, saya ingin ber-terima kasih. Terima kasih untuk warna-warna yang kalian berikan pada hidup saya. Terima kasih mau menganggap saya. Terima kasih untuk kepercayaan dan ke-geje-an yang kalian berikan kepada saya. Terima kasih untuk rasa nyaman dan kekeluargaannya. Terima kasih untuk pengalaman barunya. Terima kasih sudah mau menjadi keluarga saya. Terima kasih, ya?

Saat hari ke-3 MPKMB, saya benar-benar tidak bisa menerima kenyataan bahwa MPKMB akan berakhir. #okesipinilebay

Itu pertamakalinya loh saya sedih bertemu dengan perpisahan. Sedih tidak bisa menikmati hari-hari dengan kalian lagi. Karena ini menjadi moment pertamakalinya selama 19 tahun, saya nyaman dengan yang namanya teman ‘satu wilayah’. Ketika menyapa, bercanda, jail, ataupun melakukan hal-hal aneh lainnya kepada kalian semua, saya tidak canggung sama sekali. Iya, salah satu mimpi sederhana saya tercapai di sini.

                                                                                        فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. Ar-Rahman)

image

image

Aku mencintai kalian, karena Allah SWT. :”“”“”“)

                                                                    Bogor, 02 September 2014

                                                                          Naafi Fatimah Harwanti



02
Sep
12:39am

Menjadi hati-hati dengan hati (perempuan)

Hei, kamu. Ingin tahu sedikit rahasia perempuan? Bukannya aku ingin membongkar rahasia mereka, tetapi sepertinya rahasia ini sudah menjadi sesuatu yang ramai dibicarakan oleh khalayak umum. Sebelumnya, sudahkah kamu membaca cerita yang aku tulis sebelumnya? Sepertinya mereka saling berkaitan. Baik, mari kita sedikit berpetualang pada hati (perempuan).

Perempuan menyimpan banyak sekali rahasia. Dan hati lah yang memiliki wewenang eksklusif untuk menjaga rahasia-rahasia tersebut.

Pada tulisan sebelumnya, aku bercerita bahwa ada sebuah fenomena yang sering sekali terjadi pada hati perempuan, yakni jatuh cinta.

Asal kamu tahu, perempuan itu mudah sekali jatuh cinta. Entah itu yang namanya jatuh cinta, atau hanya rasa kagum yang berlebihan. Karena kebiasaan inilah, mereka sering menderita penyakit kegeeran.

Iya, geer. Disenyumin, ngiranya suka. Disapa di dunia nyata dan dunia maya, ngiranya ngasih kode. Melihat dia on, deg-degannya setengahnya jiwa, padahal di-chat saja tidak. Walaupun di-chat cuma nanya ataupun say ‘hai’ doang, hati rasanya udah kayak diajak terbang dengan balon-balon yang ada pada kartun “Up”. Takut merasa kehilangan dan cemburu melihat dia dekat dengan yang lain, padahal belum resmi jadi siapa-siapanya. Tiap hari stalking blog dan media sosialnya, siapa tahu dia ngetik status ataupun nulis sebuah tulisan tentang dirinya. Padahal tidak sama sekali.

Geer. Yayaya, namanya juga perempuan.

Perasaan geer inilah yang menyebabkan perempuan selalu merasa menjadi layang-layang. Tarik… Ulur… Tarik… Ulur… Mereka selalu merasa laki-laki lah yang bersalah. Memainkan hati mereka dengan seenaknya, layaknya layang-layang. Tidak merasa bahwa dirinya juga salah. Kalau bukan karena kegeeran, babak ceritanya pasti akan berbeda lagi.

Menjaga sebuah rasa itu memang tidak mudah, bagi perempuan.

Jadi…

Berhati-hatilah dengan hati (perempuan). Asal kamu tahu, perempuan adalah makhluk yang menyukai kepastian. Bukan kepastian masa depan, harta, ataupun keamanan. Tetapi ini… *nunjuk hati*.

Berhati-hatilah dengan hati (perempuan). Jagalah ia dengan sebuah jarak. Jarak yang memungkinkan kamu (dan ia) untuk bermetamorfosa, menjadi seorang makhluk Tuhan yang sesuai dengan sunnah-Nya. Jarak yang mematangkan jejak, sikap dan hati kamu. Jarak yang menjaga kehormatan(nya). Iya, jarak—menjadi satu-satunya cara untuk menjaga hati (perempuan). 

Hei, kamu yang entah sekarang sedang memiliki rasa apa… selamat berhati-hati ya, dengan hati (perempuan). :)

Bogor Malam, 2 September 2014.

Naafi Fatimah Harwanti



01
Sep
12:30am

Abu-abu

Gelap.

Kosong.

Sepi.

Terlalu hambar untuk dirasa. Padahal banyak sekali torehan yang sudah siap untuk dialirkan. Tetapi sayang, alam tidak mendukung seluruh torehan tersebut. Semakin banyak torehan yang siap untuk dialirkan, semakin banyak juga hal-hal kecil yang siap menghambat torehan tersebut.

Apakah hambatan tersebut akan mengakibatkan banjir pada lain masa? Entahlah. Terlalu abu-abu untuk diterka.

Tidak adil.